-SELAMAT DATANG DAN KORAN HARIAN KONPAK

Rabu, 08 Oktober 2014

Menuju Bali, 49 Penumpang Masih Hilang 49 Penumpang Tenggelam Saat Berlayar ke Bali


ilustrasi tewas tenggelam. foto google
ilustrasi tewas tenggelam.

SITUBONDO - Kecelakaan laut menimpa kapal layar motor (KLM) Jabal Nur. Kapal yang berangkat dari Pulau Raas, Sumenep, Madura, Jawa Timur, dengan mengangkut 49 penumpang itu hilang saat berlayar menuju Kabupaten Buleleng, Bali. Kapal diperkirakan hilang di antara perairan Madura dan Situbondo. 
Dugaan sementara, kapal milik H Paong, warga Dusun Talango Tengah, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Sumenep, tersebut mengalami kebocoran pada lambungnya. Kapal tradisional yang dinakhodai Munif, warga Kampung Talang Tengah, Kepulauan Raas, itu mengangkut penumpang yang sebagian besar rombongan keluarga untuk mengiring pengantin di Bali
Kapal tersebut berangkat Senin (6/10) pukul 07.00. Jawa Pos Radar Sumenep melaporkan, beberapa jam setelah keberangkatan, Munif, 46, si nakhoda, menghubungi Abdus Samad, 45, warga Desa Brakas. Munif menginformasikan bahwa perahu yang ditumpangi rombongan macet.
Munif juga meminta pertolongan untuk segera dikirimi perahu pengganti. Sebab, perahu yang mereka tumpangi bocor dan dibawa arus ke arah barat menuju perairan Banyuwangi.
"Semua penumpang panik. Banyak air laut yang masuk ke dalam perahu," kata Munif seperti ditirukan Samad saat dihubungi koran ini kemarin.
Menurut Munif, air laut masuk ke dalam perahu kian tak terbendung lantaran pompa yang biasa digunakan untuk menyedot air di dalam perahu tidak berfungsi. Beberapa penumpang berusaha memperbaiki. Namun, usaha itu tidak berhasil.
Satu jam kemudian, warga di Pulau Raas kehilangan kontak dengan rombongan. Sebab, semua nomor ponsel yang dibawa tidak dapat dihubungi. Seketika warga di Kepulauan Raas melakukan pencarian menuju perairan Banyuwangi seperti yang diinformasikan ketua rombongan.
Kasatpolairud Polres Situbondo AKP Basori mengatakan, kapal itu celaka di perairan Madura. Menurut Basori, kapal tersebut mengalami kecelakaan delapan jam setelah berlayar.
"Info terakhir, sempat terlacak sinyal HP (handphone) keluarga yang sempat komunikasi. Sesaat sebelum kejadian di titik koordinat 7.9505 LS, 114,3950 BT. Setelah dilacak, posisi tersebut masih berada di titik Selat Madura," ungkap Basori. Kapal diduga tenggelam.
Perkembangan terakhir memang masih simpang siur. Saat ini tim gabungan yang terdiri atas satpolairud, TNI-AL, dan Basarnas juga mencari kapal nahas tersebut di perairan Situbondo. Mereka terus berupaya mencari titik koordinat hilangnya kontak perahu yang membawa rombongan pengantin itu.
Wahyu, salah seorang petugas Basarnas, mengatakan, sampai saat ini tim gabungan masih melakukan pencarian titik koordinat perahu. "Kami belum menemukan dan pencarian masih kami lakukan," katanya kepada Jawa Pos Radar Situbondo kemarin siang.
Hingga kini upaya penyisiran sejak pagi hingga sore kemarin oleh tim gabungan masih belum membuahkan hasil. Bahkan, tim Basarnas Surabaya yang menyisir lewat udara dengan helikopter masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal tersebut.
Sementara itu, pihak keluarga di Bali mencari informasi di Pelabuhan Pandean, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Supriyono, salah seorang keluarga rombongan pengantin, mengatakan sempat berkomunikasi dengan nakhoda dan keluarga saat detik-detik kapal mulai bocor. "Ya, saya berkomunikasi terakhir sekitar pukul 16.00," kata Supriyono kepada koran ini saat berada di pos TNI-AL Pandean kemarin.
Saat berkomunikasi terakhir, Supriyono sudah mendengar bahwa mesin kapal mati dan perahunya mulai bocor. "Katanya dekat dengan gunung, setelah itu putus," ujar pria yang mengaku bekerja di Bali tersebut. (ren/aif/han/mas/uji/JPNN/sof)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar